Memahami Cyberbullying di Jepang dari Drama Netflix “Followers”

Posted on

Akhir-akhir ini, cyberbullying memang tengah menjadi topik hangat di Jepang. Hal ini berkaitan erat dengan kasus bunuh diri member dari seri populer Netflix “Terrace House” yaitu Hana Kimura. Konon, penyebab utama pro wrestler yang baru berusia 22 tahun ini nekat mengakhiri hidupnya adalah cyberbullying. Sejak saat itu, kasus cyberbullying di Jepang menjadi sorotan dunia. 

Kepergian Hana Kimura ini tentu menjadi tamparan keras bagi masyarakat Jepang dan dunia. Kita diajak untuk lebih serius menanggapi kasus cyberbullying. Cyberbullying bukanlah masalah sepele karena dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, seperti kecemasan, depresi, dan keinginan untuk bunuh diri.

Hal ini diperburuk dengan masyarakat Jepang yang enggan membicarakan masalah kesehatan mental karena dianggap masih tabu. Oleh karena itu, banyak korban bullying (termasuk cyberbullying) tak tertangani dengan baik dan akhirnya mengakhiri hidupnya. 

Untuk memahami betapa seriusnya masalah cyberbullying di Jepang, kamu bisa menonton drama seri Netflix berjudul “Follower”. Drama ini akan mengajak kita untuk memahami efek cyberbullying bagi kehidupan seseorang. 

 

Popularitas Abu-abu yang Dibentuk Media Sosial

Kamu yang awalnya bukan siapa-siapa bisa mendadak terkenal karena viral di media sosial. Kondisi ini juga dialami oleh artis tak populer Natsume (Elaiza Ikeda). Saat karier aktingnya sudah diambang kegagalan, dia mendadak populer setelah fotografer terkenal Limi Nara (Miki Nakatani) mem-posting fotonya. Berkat satu jepretan foto, Natsume berhasil mendapatkan banyak follower baru di Instagram. Sejak saat itulah perlakukan orang-orang di sekitarnya berubah total. 

Dulunya, banyak orang yang tak peduli dan meremehkan Natsume. Seberapa keras usahanya, tak ada satupun orang yang memahami dirinya. Namun, dia menjadi pusat perhatian dan begitu dihargai saat menjadi ratu medsos. Natsume pun berhasil mendapatkan apa yang selama ini diharapkan yaitu popularitas. 

Sayangnya, popularitas ini membuat Natsume kehilangan jati dirinya. Setiap kali mem-posting foto, dia begitu terobsesi dengan jumlah like. Dia juga terjebak pada komentar-komentar follower-nya. Sejak saat itu, Natsume berubah menjadi orang yang diinginkan oleh lingkungan sosial dan lambat laun kehilangan jati dirinya. 

Hingga suatu ketika, seseorang menyebar berita buruk tentang dirinya. Dalam sekejap, karier Natsume pun tamat. Netizen tak peduli dengan kebenaran isi berita dan segera membalikkan badan pada Natsume. Kondisi serupa pun dialami Hana Kimura di dunia nyata. 

Negara Homogen dan Citra “Abu-abu” Ciptaan Media

Hana Kimura adalah pro wrestler muda menjanjikan yang memiliki penampilan eksentrik. Jika dibandingkan dengan perempuan Jepang pada umumnya, Hana tentu terlihat begitu berbeda. Masyarakat Jepang memiliki anggapan bahwa perempuan harus konservatif, lembut, dan pendiam. Sementara itu, Hana Kimura mewarnai rambutnya dan tidak takut untuk mengungkapkan pendapatnya. 

Karena hal inilah, Hana Kimura mendapatkan banyak hujatan setelah sempat bersitegang dengan sesama member “Terrace House”. Hana sempat marah-marah pada Kai yang tanpa sengaja merusak kostum gulatnya. Banyak netizen yang menyalahkan Hana karena tidak berhati-hati dalam menjaga kostum dan mulai menyerangnya di medsos. Hujatan demi hujatan ini pun diduga sebagai alasan Hana mengakhiri hidupnya. 

Lantas, mengapa netizen berpihak ke Kai dan menyerang Hana? Hal ini kembali pada konsep masyarakat Jepang yang homogen. Mereka menilai Hana sebagai pribadi yang buruk karena penampilan dan sifatnya tak sesuai dengan standar sosial Jepang. Bahkan ada beberapa netizen yang menyalahkan Hana karena tidak dapat melakukan tugas perempuan dengan baik. 

 

Cyberbullying Terjadi di Seluruh Dunia

Saking seriusnya masalah ini, produksi “Terrace House” pun dihentikan. Menurut rumor yang beredar, ada dugaan bahwa kejadian perusakan kostum Hana sudah direncanakan atau setting-an. Namun, ini baru dugaan yang belum jelas kebenarannya. 

Tak hanya di Jepang, sebenarnya cyberbullying juga terjadi di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kamu pasti sering menjumpai komentar jahat di posting-an selebgram atau artis Indonesia, bukan? Inilah salah satu wujud dari cyberbullying yang sangat dekat dengan kehidupan kita. 

Dari sini, kita bisa belajar untuk menjadi lebih bijak saat menggunakan media sosial. Satu kata kasar yang kita anggap sepele bisa saja melukai perasaan orang lain. Kita pun juga harus belajar untuk memisahkan kehidupan maya dan nyata. Jangan sampai, kita membenci atau menyalahkan orang lain karena rumor yang belum terbukti kebenarannya. 

 

Image cover: free stock photos from www.picjumbo.com dari Pixabay

 

The post Memahami Cyberbullying di Jepang dari Drama Netflix “Followers” appeared first on Jalan-jalan ke Jepang.

Source: www.jalan2kejepang.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *